40 Hari Lagi PEMILU, Namun Pemilih Masih “Buta”

Tak ada yang mengejutkan dari temuan terbaru survei Lembaga Survei Indonesia (LSI) yang kemarin (1/3) diberitakan Jawa Pos. Dalam temuan itu, terungkap belum banyak perubahan perilaku memilih.

Simak saja gambaran berikut. Dari 2.445 responden, sebagian besar responden (lebih dari 50 persen) akan mencoblos (menandai) gambar partai politik (parpol). Hanya lebih sedikit yang menyatakan akan mencoblos foto calon anggota legislatif (caleg).

Padahal, ketika Mahkamah Konstitusi (MK) memutuskan bahwa caleg terpilih harus ditentukan dengan “adu kuat” antarcaleg untuk memperoleh suara terbanyak dari pemilih, mencoblos foto caleg kian mutlak menjadi penentu nasib calon wakil rakyat itu demi lolos ke gedung dewan.

Ini sungguh ironis bin amat memprihatinkan. Bagaimana mungkin saat pemilu (legislatif) tinggal 40 hari lagi, pengetahuan pemilih belum banyak berubah. Mereka masih menganggap bahwa menggunakan hak pilih itu sama seperti pemilu-pemilu sebelumnya. Cukup mencoblos lambang parpol peserta pemilu.

Maka, kalau ada pihak yang perlu dijadikan “tersangka” atas belum berubahnya perilaku memilih tersebut, pihak itu adalah Komisi Pemilihan Umum (KPU). Berikutnya adalah caleg sendiri. Berikutnya lagi parpol yang bersangkutan.

KPU terlalu banyak berkutat dengan wacana yang tidak terlalu urgen. Misalnya berpolemik tentang perlunya regulasi terkait dengan putusan MK soal mekanisme suara terbanyak, zipper system, dan wacana lain yang secara teknis tak terkait langsung dengan tata cara pemilihan. Dengan kata lain, yang harus dituduhkan ke KPU adalah komisi itu gagal melakukan sosialisasi paling mutakhir terkait dengan perubahan tata cara menggunakan hak pilih yang benar.

Awal Februari lalu, dalam latihan pencontrengan di Tangerang, 70 persen calon pemilih yang turut berlatih salah menandai surat suara. Itu saja sudah “lampu kuning”, indikasi bakal amat besar suara pemilih yang tidak sah.

Caleg juga turut andil terhadap tak berubahnya pengetahuan pemilih. Caleg gagal “mengampanyekan” bahwa foto dirinya yang harus dicoblos dengan memberikan tanda silang. Atau, melingkari nomor urut nama caleg dalam surat suara.

Celakanya, sampai H-40 menjelang pemungutan suara, tidak banyak caleg yang secara serius dan terorganisasi melakukan sosialisasi. Justru, yang ngotot mereka lakukan ialah memburu dukungan pemilih melalui jejaring komunitas dan kelompok-kelompok masyarakat tanpa disertai program pelatihan yang benar tentang tata cara memilih yang sah.

Padahal, dukungan saja percuma kalau kelak yang dicoblos para pemilih justru gambar parpol. Bukan foto atau nomor urut nama caleg. Bahkan, sampai saat ini foto-foto raksasa caleg hanya dihiasi untaian kalimat sok pejuang, sok moralis, dan sok pelayan publik yang asal bunyi (asbun). Kalimat-kalimat narsis itu nol besar bagi upaya mempercepat pengetahuan pemilih tentang cara mencoblos yang benar.

Tidak ada kaitan apa pun antara klaim-klaim sebagai pelayan rakyat itu dan tata cara memilih yang benar. Agar pemilih kelak dalam bilik suara sudah paham sepaham-pahamnya bahwa cara menggunakan hak pilih dengan predikat yang lulus terpuji itu ialah menandai foto caleg. Atau, melingkari nomor urut nama caleg dalam surat suara.

Parpol sama saja. Setelah “kemahakuasaannya” dalam memainkan nasib caleg -terpilih atau tidak terpilih melalui sistem nomor urut- dibonsai MK, semangat mereka untuk memberdayakan konstituennya ambrol.

Praktis, kini yang bekerja keras sendirian adalah caleg. Itu pun kerja mereka cenderung lengak sini lengok sana. Masuk kampung keluar kampung. Tetapi, sebagian besar di antara mereka hanya minta doa restu. Ibarat caleg “independen” saja. Mereka yatim piatu, seakan tak punya ibu dan bapak parpol.

Seharusnya, seluruh caleg -syukur pula kalau di-back up penuh parpolnya- banting setir dalam mengampanyekan dirinya. Jangan lagi obral kalimat-kalimat imbauan yang narsis-narsis saja. Hanya memuji diri sendiri secara berlebihan.

Mereka harus bersinergi dan bermitra dengan banyak kalangan untuk bekerja tanpa kenal lelah dan tanpa kenal waktu untuk melatih calon pemilihnya. Wabil khusus pengetahuan tentang cara menggunakan hak pilih yang sah.

(Dikutip dari http://www.jawapos.com)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: